DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, penulis surat keluhan melalui internet yang ditahan



friends….. pasti udah dengerkan kasus Ibu prita,  yang ditahan karena mengeluhkan layanan Rumah Sakit Omni.  Tulisan ini bentuk dukungan untuk ibu Prita Mulyasari.

Seorang ibu, Ibu dari dua balita yang juga konsumen, dihadapi sebuah korporat dengan segala kelebihan yang dimilikinya melalui pendekatan kekuasaan. Padahal dalam praktik bisnis yang sehat lagi santun, keluhan seperti itu seyogyanya diselesaikan melalui komunikasi. Ada penjelasan, ada proses saling mendengar, ada upaya untuk mendudukkan persoalan melalui pengertian bersama.

banner-prita-468x601
Namun yang terjadi sekarang justru dijerat dengan pasal “Pencemaran Nama baik” dan harus mendekam di penjara dan membayar denda yang jumahnya ngga sedikit.  Kemudian sekarang malah dipidanakan pula.  Apa sebenarnya yang terjadi dengan HATI MANUSIA-MANUSIA DI INDONESIA ???????

Supaya lebih Jelas Ini saya copas Surat Ibu Prita..

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

pritaUdah dibaca?..Naa Jelas kan apa yang dikeluhkan Ibu Prita ?…  Apa yang terjadi dengan ibu prita sekarang dapat saja terjadi kepada kita , teman dan keluarga. Persoalan kita sekarang ini adalah menghadapi kesewenang-wenangan sehingga secara bersama kita harus memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Himbauan saya DUKUNG KEBEBASAN IBU PRITA. Teman-teman yang punya Facebook, join Cause ini: http://apps.facebook.com/causes/290597/63547087

Bagi yang punya Blog atau web, pasang BANNER BEBASKAN IBU PRITA.

Sepenuhnya saya yakin keadilan akan selalu menang, hanya perlu perjuangan.



banner ad


53 Responses to “DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, penulis surat keluhan melalui internet yang ditahan”

  1. dawiecool says:

    Ternyata begitu ceritanya. Seharusnya Bu Prita bisa bersikap dengan membalas tuntutan nya dengan dasar MALPRAKTEK.
    Jadi pihak RS tidak akan segitu mudahnya mengintimidasi bu Prita.

  2. Aisha says:

    Terima kasih infonya bro.Kasihan ya…Hukum Indonesia hancur ,kalau sampai Ibu Prita ini terpidana 6 tahun penjara.Moga cepat tuntas masalahnya amin.

  3. ceuceu says:

    managemen Omni cari pasien rawat inap sebanyak2nya buat nutupin biaya pembangunan RS yang megah itu kali yaaa…hehe.. (kacau..)!!

    Buat Ibu Prita, moga tabah..jangan patah semangat karena dukungan datang dari banyak pihak,termasuk Komnas HAM.

  4. Morena says:

    Pasti banyak yang mengalami hal mirip yang dialami bu Prita. Tapi yang berani bicara nggak ada. Salut buat bu Prita. Seharusnya anda mendapat penghargaan atas keberanian anda. Tapi justru mendapat ketidak adilan. Kalau begini akan makin banyak RS RS bobrok. Karena hanya karena seseorang komplein saja yang komplen udah masuk Hotel Prodeo….itu bukan tempat anda Prita. ADILKAH ?

  5. Morena says:

    Saya minta. Lembaga-lembaga perindungan konsumen ( kan banyak tuh ) berikanlah dukungan terhadap Prita ( konsumen ) yang hak2nya telah dikebiri. Untuk itu Tuntut balik pihak RS tersebut. PIDANAKAN MEREKA PAK !!!

  6. james says:

    Saya turut prihatin dengan hukum di Indonesia. Seorang yang peduli dengan lingkungan dan masyarakat luas malah diintimidasi dan dipenjara. yah… kalo uang sudah bekerja, yang salah pun menjadi benar, yang benar dikalahkan. Sampai kapan hal itu terjadi????

  7. Tabahkan hatimu Ibu Prita … semoga Allah selalu bersamamu … ini nyata hanya di Indonessia … korban masuk penjara … penjahat berkeliaran … sungguh ironisnya

  8. bee says:

    setelah saya baca,saya sangat simpati dengan ibu prita,ko bisa rumah sakit yang seharusnya menolong orang.eh malah bikin sakit orang & saya mendukung ibu prita,tetap tabah & tetap semangat memperjuangkan haknya

  9. suparman says:

    @ RS Omni, tolong bebaskan sdri. Prita, kasihan. kalo begini caranya saya yakin RS Omni akan tutup, bukan karena menang-kalah perkara tetapi kepercayaan masyarakat sudah NOL

  10. ramudeng says:

    yah, begitulah, segalanya memang harus diukur dengan uang, padahal jika ikhlas, uang akan mengalir sendiri kok…

  11. [...] DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI … [...]

  12. Ekohadisaputro says:

    YG tabah, berjuang dan terus berdo’a IBU Prita Mulyasari,saya,atas nama kebenaran mendukung ibu,karna ibu adalah pejuang untuk menyuarakan ratusan bahkan jutaan org2 yang tertindas akibat pengaruh matrialistis, kapitalis, liberalisme yang semakin merajalela, sehingga mereka tidak bisa lagi menbedakan uang dan KEMANUSIAAN..”Becik ke titik olo ketoro”.

  13. annas says:

    Kasus Prita Mulyasari, menodai semangat kebebasan berpendapat di muka umum, dan kembali di BUNGKAM!!!
    Lawan aksi pengkebirian kebebasan berpendapat!!!!

    salam,

    Bakudara!!!

  14. Firman says:

    TERIMA KASIH BUAT TEMEN2 BLOGGER YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGAN BUAT KAMPANYE DUKUNGAN BAGI IBU PRITA….

    KALAU KITA HANYA DISURUH BUNGKAM SAAT MELIHAT SESUATU YANG DIRASA KURANG “PAS”, BUAT APAKITA SEKOLAH ????? BUAT APA INDONESIA DIBILANG MERDEKA ??? BUAT APA DEMOKRASI ???

    SEMUA KONSUMEN BEBAS UNTUK MELAKUKAN KOMPLAIN KE PRODUSEN… KITA MASYARAKAT (KONSUMEN) JUGA BEBAS KOMPLAIN DENGAN LAYANAN DAN PRODUK YANG KITA RASA MERUGIKAN…

    DUKUNG TERUS KAMPANYA INI… BUKAN BUAT NAIKAN TRAFIC BLOG TAPI LEBIH KEPADA BENTUK KEPEDULIAN BLOGGER DAN NETTER TERHADAP HAL-HAL YANG MENYINGGUNG RASA KEADILAN KITA…

  15. conet says:

    jgn pernah meyerah bu…dalam menyuarakan kebenaran di dunia ini, karena kita skrang berhadapan dengan aturan2 orang2 gila

  16. Artha says:

    Hebat….
    Komplin dari pasien [konsumen] bukannya di tanggapi dengan instrospeksi malah balik memperkarakan konsumen.

  17. roeslantu says:

    Ibu Prita – Srikandi KEBENARAN

    Insya Allah kemenangan akan dipihak anda,
    dan azab akan menimpa pihak yang berbuat zholim.
    Kami bersama anda – Teruskan!!

  18. riz says:

    saya kira , kebenaran mulai nampak. jikalau tidak ada keberanian untuk menulis atas tuduhan padanya masuk rumah sakit atas anjuran petugas di RS itu dengan dalih gawat sekali agar segera menginap. berbagai alasan memang menjadi upaya agar bisnis RS selalu untung dan beruntung namun tak banyak orang berani menegor dan melaporkan mal-mal praktek atao badan di mol-mol , hhhheee

  19. nicky says:

    apa sih RS OMNI, JANGAN DATENG SANA DEH, mana ada critanya pasien dipenjarain RUMAH SAKIT.. GILA AJA..

    Biasa lah dokter n rs kayak gitu, Dokter n RS baru nan mahal2 aja juga belum tentu baik pelayanannya, jadi harus mau dikritik donk.. (Red : gue en sodara n temen sering alami hal sedemikian berhub dengan dokter dan rumah sakit – sampe bingung pilih rumah sakit en dokter yang baek) Udah deh nggak usah cari kambing hitam untuk memberi kesan seakan-akan RS OMNI baik, semakin RS OMNI nuntut de el el, semakin jelek kesan n namanya n perlakuannya sama pasien (bisa mikir dari sudut itu ngga sih???)

    kalo main pasal2an segera panggil pengacara, masak nulis beginian dipenjara sampe 3mgg..

    hancurkan RS Omni yess hahaha.. tar gue dipenjara lagi nulis begonoan wakakakaka..

  20. joko says:

    Setelah membaca surat curhat ibu Prita, sungguh kaget saya kalo ibu Prita bisa dipenjarakan karena curhatnya itu. Menurut saya surat curhat ibu Prita isinya sangat wajar sekali dan tidak ada kesan rekayasa dan bahkan terkesan sopan dalam penuturanya (lihat tampilan ibu Prita dan suaminya di media tv, saya yakin dia orang baik dan agamis). Sungguh sangat tidak bijaksana apabila pihak rumah sakit menuntut dan bahkan memenjarakannya, mestinya malah berterima kasih untuk perbaikan manajemen rs selanjutnya. Saran bagi owner rumah sakit Omni, pilihlah manajemen yang baik agar rumah sakit anda tetap exist dan dipercaya masyarakat. Jangan biarkan milik anda ini menjadi hancur dan tidak barokah. Tengoklah kembali Visi dan misi pendirian rumah sakit anda sehingga anda akan kembali ke jalan yang benar dan usaha anda diridhoi Allah SWT.
    Salam

  21. itnat says:

    itulah bobroknya moral orang2 yg gak bertanggung jawab, yang salah dipertahankan yang benar malah disingkirkan.
    Tapi kebenaran pasti akan menang!

  22. ifan says:

    hebat ya indonesia…….. bisa mencekik warga negaranya sendiri,, bwt bu prita “doa kami di nadimu”, terkadang kepintaran indonesia malah jadi ajang pembodohan bagi warga negaranya… BOIKOT RS. OMNI…………………. !!!!!!!!!!!!!! BOIKOT RS.OMNI……………………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  23. Febi says:

    jujur aja, saya sampe gemetar membaca kisah kejahatan Omni. lebih tragis dari sinetron, lebih seram dari film horor.

    Yup! mari berbuat… tunggu saja, saya juga akan melakukan perhitungan melalui tangan lemah ini!

  24. iwan setyawan says:

    bu prita sabar,,,saya turut prihatin,,
    untuk kita semua,,kalo bisa mulai sekarang tidaklah usah ke dokter,,kita liat saja,,dokter juga butuh pasien,,

  25. Harry says:

    Surat keluhan tersebut menurut saya sangat wajar.tidak ada hal2 yang sifatnya fitnahan, kalau pelayanan publik buruk/kurang baik wajar saja kalau kita komplain baik melalui media cetak atau elektronik ( internet).Saya berharap UU komunikasi dan kebebasan berbicara bisa di revisi, anggota DPR RI harus peduli dengan hal ini, jg Presiden baik yg sekarang maupun yg akan datang.

  26. aaa says:

    parah hukum indonesia..
    gimana negara kita bisa lebih maju coba..

  27. Ahmad says:

    Ini kejadian yang amat Gila, ternyata benar terjadi!
    Keluhan Pasien dianggap Pencemaran nama baik!

    OMNI Management beserta dokter2 gila layak masuk
    RS.Jiwa Nih…..

    buat Ibu Prita… anda punya doa makbul, karena anda sudah teraniaya ! Bahkan bila doa anda menginginkan OMNI HANCUR Insya Allah pasti terjadi! Oknum Aparat Hukum Kutuk aja jadi BATU, bu! Yakin bu …. Allah Maha Besar Kuasa dan Hukumnya!

  28. dukungan buat bu prita terus mengalir. sidang berikutnya akan digelar pada kamis, 11 juni 2009. ini momen yang tepat bagi temen2 bloger utk menunjukkan kepedulian kita terhadap nasib sesama yang teraniaya yang dikenai pasal UU ITE yang dipaksakan.

  29. ada uang ada barang, tak ada uang nyawa melayang.
    sudah menjadi rahasia umum bahwa hukum di Indonesia sarat dengan permainan uang, yang beruang akan menang, tak beruang adalah sapi perahan.
    jika di dunia mereka menang, maka pada akhirnya mereka akan terpanggang………….

  30. sugiyo says:

    Semoga Ibu Prita tabah. Ini adalah harga dari sebuah demokrasi. Ternyata demokrasi mahal harganya, harus memasukkan orang yang tidak bersalah harus masuk penjara. Menurut pendapat saya orang yang mengirim email ibu Prita ke Milist juga harus dipertanyakan apa maksud dan tujuannya mempublikasikan CURHAT Ibu Prita.

  31. Rnr says:

    Saya ikut prihatin dg keadaan bu prita skg ini,smoga bu prita sabar tabah dg ujian ini,smoga Allah mengabulkan doa bu prita,amiin

  32. crl says:

    sabar ya bu……..semua yang benar pasti akan menang

  33. Ani says:

    Semoga ibu Pritta tegar menghadapi kasus ini dan semoga keadilan di Indonesia bisa ditegakkan .

  34. Danta says:

    Saya juga dukung bu prita mas.. saya menyayangkan kasus ini.. kok ada ya kasus yang aneh kayak gini

  35. Pertanyaan says:

    Kabarnya pihak Omni mulai ngajak damai

  36. suryaden says:

    mari kita dukung selalu, bahkan bu prita sekarang katanya sudah trauma nulis email, wah gimana nih…

  37. Gita Kamila says:

    Mbak Prita kami dukung secara moril untuk melawan kedzaliman RS Omni……… Dengan syarat Mbak Prita tidak menagih hasil test lab trombosit 27000, sebagai syarat mereka menarik tuntutan kepada Mbak, sudah jelas kalau mereka sudah menghilangkan barang bukti yang merupakan hak pasien.

    Jangan takut ALLAH beserta orang yang didzalimi dan do’a Mbak Prita insya Allah akan diqabulkannya…….

  38. Shanty says:

    Setuju!!! tuh RS emang kelewat bisnis sih!

  39. ceuceu says:

    DPR minta Omni agar tuntutannya dicabut, jaksa penuntut akan ‘ditanyain’ MA, IDI akan ‘periksa’ manajemen/dokter di Omni… na lo..!!

  40. kang onmi says:

    saya dukung Ibu Prita,
    boleh damai tapi tetap harus ngaku salah dulu, bayar kerugian Ibu prita.
    tagih terus tuh hasil lab trombosit 27.000, biar tau, orang salah ga mau ngaku salah, malah nyalahin orang yang ga salah.

  41. JamesD says:

    Thanks for the useful info. It’s so interesting

  42. gomel says:

    YEAA!! akhirnya bu Prita BEBAS!! :)

  43. jessigec says:

    I consider, that you have deceived.

  44. Download MP3 says:

    bebaskan ibu prita
    tutup RS OMni

  45. Tono says:

    RS Omni International punya lab terlalu canggih dan mahal dan punya ahli di semua bidang (AHLI MENJEBAK PASIEN) sampai -sampai hasil lab ada 2 hasil beda, yang satu bisa diperlihatkan dan satunya di larang liat. Untuk nutup utang lab canggih tp bloon itu rs omni jebak pasien yang datang (bisa disuruh inap padahal penyakitnya tidak parah bisa berobat jalan, ato pelayanan seadanya, resep obat dibikin mahal dan menunggu pasien mengeluh lalu …… digugatlah si pasien tersebut dan dikenai gugat perdata untuk bayar utang RS OMNI INTERNATIONAL.

  46. ceuceu says:

    belom update lagi… sibuk yaa…

  47. MAS SUGONDO says:

    Menurut saya Dokter yang menangani Ibu Prita itu bukan bukan Dokter sungguhan.Seperti yang pernah saya sampaikan tempo hari.Bahwa Gelar Dokter Yang Dia dapat bukan dari hasil Study Tapi dari hasil membeli,yaaa begitulah hasilnya.hanya ilmu coba – coba siapa tahu cocok.KALAU SUDAH BEGINI PIHAK RS OMNI YNG DI RUGIKAN OLEH DOKTER-DOKTER GADUNGAN ITU.JADI YANG SALAH BUKAN IBU PRITA TAPI DOKTER GADUNGAN ITU YANG HARUS DITANGKAP.KEPADA BPK POLISI TANGKAP TU DOKTER GADUNGAN.LEPASKAN IBU PRITA.

  48. Shanty says:

    cabut ijin RS OMNI!!! ga syopan.

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash