Secara teori, dapat dipandang sebagai suatu bentuk yang sangat ideal bagi manajemen sekolah di masa sekarang. Namun apakah seluruh sekolah telah siap ?. Rasanya belum ada riset tentang ini, namun dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana kondisi riil yang saya hadapi dilapangan.
Dalam kurun waktu sejak 2004 saya mulai mengembangkan sistem informasi sekolah, sampai sekarang masih bertahan dengan nama Acatech. Dalam Implementasinya Acatech banyak sekali menemui kendala. Kalau boleh di katakan hampir seluruhnya adalah masalah budaya kerja, cara pandang user tentang sebuah makhluk bernama IT dll.. dll. Ada beberapa pengalaman yang sangat berarti dan membuat saya jadi berfikir “Apa iya ?,.. produk saya akan dipakai ?..” he he he…
Di beberapa sekolah yang telah mendapat gelas RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) atau SSN (Sekolah Standar Nasional) masih banyak saya temui personel baik guru mapun karyawan yang sama sekali belum mengenal Komputer. Bahkan bagaimana menghidupkan dan mematikan pun saya dan tim masih harus membuka sesi tersendiri untuk pelatihan. Kebayangkan ?
Pengalaman lain yang sangat menarik adalah saat implementasi software penilaian. Sesuai konsepnya, seluruh pengajar wajib input nilai tanpa terkecuali, dan trial ini berlangsung selama 1 semester. Saat pengajar melakukan ulangan, baik harian, tugas, PR dll. Nilai yang diperoleh harus sesegera mungkin dimasukkan, karena orang tua siswa telah siap melihat nilai putra-putrinya melalui SMS. Selain itu apabila ditemukan error maka pihak developer masih ada waktu untuk me-resolve errornya.
Kalau dibikin kuis pertanyaan bakal seperti ini; ” Apa yang terjadi di akhir semester saat menjelang terima rapor ? “… Ternyata oh ternyata…. hanya satu-dua guru yang memasukkan nilai hasil ulangannya.
.. terpaksa saya harus terjunkan tim yang jumlahnya 6 orang untuk memasukkan nilai. Namun apa boleh dikata.. waktu yang tinggal beberapa hari tidaklah cukup. Ya… terpaksa Wali kelas yang menulis manual rapor siswa…
Dari beberapa pengalaman tersebut setiap kali diundang presentasi atau sekedar asistensi selalu saya jelaskan banyak kemungkinan yang terjadi, dan pada akhirnya sekolah, terutama kepala sekolah, juga harus siap “sedikit otoriter”.
Apabila saya melihat daftar permasalahan yang pernah saya hadapi setiap kali melakukan implementasi di sekolah, ternyata yang palingbanayak adalah ;
Pertama: Masalah budaya kerja personel di sekolah. (maaf) terutama sekolah-sekolah negeri. Saya hanya bisa mengira-ira kenapa rata-rata para pengajar di sekolah merasa enggan untuk “bisa” komputer ? bahkan mempelajari software yang sebenarnya di kembangkan untuk membantu tugas-tugas rutin mereka ?… Namun saya juga pernah temui beberapa orang yang usianya sudah lanjut ternyata sangat bersemangat dan ternyata bisa.
.. naa kok bisa?
Kedua : Figur kepemimpinan kepala sekolah yang kurang mendukung, maaf (lagi) buat kepala sekolah, karena 90% yang saya temui, kepala sekolah yang juga masih mengampu mata pelajaran kurang dapat dijadikan contoh, apalagi memberikan presure atau paling tidak menumbuhkan kesadaran bawahannya.
Ketiga : Ini hanya saya temui di sedikit sekolah, permasalah Hardware, karena dana yang dikucurkan pemerintah saat ini sudah cukup besar, hanya sedikit sekolah yang saya rasa kekurangan dana untuk membeli peralatan IT standar.
Saya rasa saatnya pelaku dunia pendidikan terutama disekalah-sekolah negeri untuk berbenah, mungkin regenerasi akan menjadi jawaban yang menjajikan untuk perkembangan implementasi di sekolah.
Salam
Turut berduka cita atas musibah yang menimpa negri kita tercinta. Semoga bangsa Kita Indonesia diberikan kekuatan. Khususnya bagi mereka yang mengalami musibah…amiennn
Salam bahagia, Minal a’izin walfa izin. ya benar apa yang firman katakan, merobah budaya manual itu memang sulit. Bahkan masih ada pengawas yang minta program mengajar harus tulis tangan.
@pakwo : na itulah pak,.. mungkin di generasi anak-anak kita IT di indonesia akan membumi ya… salam bahagia juga buat pak wo sekeluarga
emanggak mudah bro implementasi IT di sekolah
coz… musti ada divisi IT kalo mau jalan
setidaknya DBA ( Database Admin)..
artinya kan perlu tambahan SDM… selain tenaga guru
kalo guru nyambi jd DBA… butuh waktu yg lama n kemungkinan pastinya mandeg di jalan
just idea seh
@elmoudy : betul mas… kalao di sekolah swasta rasanya ngga ada kesulitan yang berarti..
Soal implementasi berarti dibutuhkan kemauan yang besar untuk belajar dari para guru…
Ketika memberi seminar itu, ada pelatihannya gak untuk para guru? agar mereka terlatih dan ngerti?
Mungkin dengan pelatihan 1/2 hari untuk penggunaan software, para guru jadi gak enggan lagi..
(sekedar saran)
salam, EKA
@eka : untuk pelatihan aplikasinya sendiri bisa seminggu ka,.. artikel diats ngga terjadi disemua sekolah sih hanya sebagian. Harapannya kedepan, semakin banyak tenaga profesional di dunia pendidikan. dan kesadaran pentingnya it terimplementasi disekolah makin besar.
Setuju! saya juga mengalaminya, bapak saya yg kepala sekolah, ketika dia menerima sertfikasi saya menyarankan untuk membeli laptop dan belajar komputer supaya lebih enak ngurus berkas2nya, Beliau merasa enggan.. padahal tujuan sertifikasi kan sebenernya untuk meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan serta Meningkatkan profesionalitas guru..
adopsi inovasi… dimana-mana..dalam banyak bidang adalah hal yang tidak mudah dilakukan.. fiuhh..kebayang bagaimana tim Acatech mengimplementasikan software ini di sekolah..
salah satu solusi jangka panjang, mkin sudah saatnya pemahaman dan kemampuan menguasai IT dijadikan persyaratan pada proses penerimaan guru.. dan untuk saat ini, komitmen pimpinan sekolah adalah faktor penentu bagaimana para guru memiliki ‘semangat’ untuk merubah ‘main set’ mereka agar IT bukan lagi hal asing..hal sulit untuk diterapkan dalam keseluruhan managemen sekolah…
sure, Acatech will be the important part in improving the quality of school management in Indonesia.. wish you luck yah..
Ada beberapa kendala; dari guru nya sendiri, dari biaya juga bisa jadi kendala.
berkunjung
sepertinya kendala budaya kerja ini memang kendala yang paling berat, apalagi memang sudah jadi budaya. saya juga kerap pusing jika menghadapi budaya yang macam itu.
sepertinya masalah utama di sekolah negeri yang notabene (maaf) PNS adalah, pintar atau pandai, rajin atau malas, gaji tetap sama. Setidaknya itu yang disampaikan oleh orang tua saya yang juga PNS.
tapi memang harus diakui pula, masih ada juga yang mau dan berusaha untuk maju, mereka inilah yang seharusnya diappresiasi dengan lebih baik.
@ ceuceusovi : na iya..setuju.. tengkyu yaa…
@ megan fox : biaya..selalu menjadi kendala klasik ya..
@ soulharmony : makasi kunjungannya mas..hehe..
@ pakacil : semoga tidak menjadi budaya yang terus dibudayakan ya mas..dan sdm yang memiliki semangat untuk maju menjadi kaum yang mayoritas…
Hmmm, kepala sekolah adalah atasan…
Nah, kalo kepala sekolahnya aja gak betul, jelas semua akan bermasalah…
Harusnya, seorang kepala sekolah adalah figur yang benar2 profesional untuk menutup segala kekurangan yang ada.
Eh..kelupaan…
Salah satu kendala yang dapat dibenahi ya itu tadi mas, implementasi IT
@Zippy : ya itu salah satunya mas… tapi banyak faktor sebenernya… dari developer sendiri misal.. itu juga ngga bisa dikesampingkan lho.
bukan hanya di dunia guru dan IT aja…
pada dasarnya SDM kita emang cenderung tidak terbuka dengan perubahan, mereka lebih suka statis dengan kondisi dan sistem yang sudah ada. Kalau ada sistem2 baru yang akan diterapkan, sudah lebih dulu melihat susah dan repotnya. Padahal proses belajar awalnya aja yang mungkin nampak repot, kemudahan yang bisa diperoleh dikemudian hari justru tidak terlihat.
@Fandie : Betul mas.. terasa sekali kalau kita langsung bertemu dengan user… salam mas…
waduh…infonya bagus bgt tapi gak ngarti hehehehe…*garuk2 kepala
ayooo belajar yang rajin….
@hacii: hoby garuk ya hehehe
@dias : yuu.. marii
sayang sekali jika sudah ada fasilitas IT tapi tidak dimanfaatkan karena tidak mau belajar….hhhh
@Desri Susilawani : tu mba.. mudah2an sebagian kecil yang belom mau belajar ikut terpacu
mudah-mudahan pemerintah kita memperhatikan kemakmuran pengabdi di bidang pendidikan, biar mereka punya waktu buat berpikir dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada.
@gugus: setuju mas,.. itu salah satu faktor yang menunjang kemajuan pendidikan di indonesia meskipun bukan yang utama tentunya